Ponpes Al-Hikmah Gunung Kidul rintis sekolah tinggi - Pendidikan Antara |
- Ponpes Al-Hikmah Gunung Kidul rintis sekolah tinggi
- Marzuki : banyak warga Indonesia tak memiliki karakter
- IMI berharap Prof Oppenheimer ungkap misteri kejayaan maritim RI
- SMK 1 Semarang bersiap buat truk kecil
- Pendidikan belum cetak anak kreatif
| Ponpes Al-Hikmah Gunung Kidul rintis sekolah tinggi Posted: 04 Jan 2012 04:38 PM PST Yogyakarta (ANTARA News) - Pondok Pesantren Al-Hikmah Dusun Sumberejo, Karang Mojo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, merintis didirikan Sekolah Tinggi Pendidikan Islam dengan kampus di pondok tersebut. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hikmah Harun Al Rosyid di Yogyakarta, Kamis, mengatakan, rintisan sekolah tinggi itu atas kerja sama dengan Yayasan Pusat Dakwah dan Pendidikan Silaturahim Pecinta Anak Yogyakarta yang selama ini mengelola Sekolah Tinggi Pendidikan Islam (STPI) Bina Insan Muda di Yogyakarta. "Rintisan ini diharapkan menjadi embrio perguruan tinggi yang didirikan ponpes di wilayah Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta," katanya. Ia mengatakan, STPI yang dirintisnya tersebut pada Tahun Akademik 2011-2012 sudah mulai menerima mahasiswa baru dan saat ini sudah tercatat sebanyak 31 mahasiswa yang mengikuti pendidikan dengan kampus di lingkungan ponpes tersebut. "Sekolah tinggi ini membuka program Strata Satu (S1) Pendidikan Guru Raudlotul Athfal (PGRA) dengan lulusannya sebagai guru Taman Kanak-Kanak Islam atau Raudlotul Athfal dan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),"katanya. Ia mengatakan, Ponpes Al-Hikmah selain merintis sekolah tinggi itu, juga menyelenggarakan sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK). "Pengelola ponpes ini menggratiskan biaya pendidikan baik pendidikan pesantren hingga di SMP, MA, dan SMK termasuk biaya kamar atau tempat tinggal," katanya. Ia mengatakan, santri di Ponpes Al-Hikmah selain berasal dari Gunung Kidul dan DIY, juga datang dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Lampung, Jambi, Aceh, dan Papua. "Jadi perbandingan santri adalah 40 persen berasal dari Gunung Kidul/DIY dan 60 persen dari luar DIY," katanya. Ia menjelaskan, karena menggratiskan biaya pendidikan para santrinya, ponpes itu menjalankan kehidupan pesantren tersebut secara mandiri, ditambah bantuan sekolah Al Hikmah dari pemerintah. "Pemerintah dan umat Islam memang memberikan bantuan bagi kelangsungan hidup ponpes ini. Namun, di sisi lain kami juga memiliki usaha sendiri di antaranya produksi roti, bengkel mobil reli, persewaan mobil, peternakan kambing, percetakan dan penerbitan," katanya. (H008/M029) |
| Marzuki : banyak warga Indonesia tak memiliki karakter Posted: 04 Jan 2012 06:29 AM PST Solo (ANTARA News) - Banyak warga Indonesia yang akhir-akhir ini tidak lagi memiliki hati nurani dan karakter, bahkan mereka itu menjadi bangsa yang beringas, kata Ketua DPR Marzuki Alie. "Seperti anak mencuri sandal saja dituntut lima tahun penjara," kata Marzuki Alie di Solo, Jateng, Rabu, mencontohkan yang dimaksud tidak memiliki hati nurani tersebut. Marzuki Alie mengatakan itu pada "Seminar Nasional Meningkatkan Peran Stategis Guru Dalam Pendidikan Karakter Bangsa" di Pendapi Balaikota Surakarta, diikuti oleh para guru dan kepala sekolah di kota ini. "Hal seperti ini dimana hati nuraninya. Saya pernah bertanya kepada Ketua Mahkamah Agung (MA), saat kasus seorang kepala sekolah dihukum empat tahun penjara karena menggunakan uang sekolah untuk membayar wisuda anaknya, dia dijerat dengan pasal yang sama dengan kasus korupsi. Terus apa bedanya dengan hukuman bagi koruptor yang nilainya miliaran rupiah," katanya. Berbagai kasus yang terjadi saat ini disebabkan karena semakin banyak rakyat Indonesia tidak memiliki hati nurani. Hal tersebut merupakan peninggalan pendidikan pada zaman sebelumnya, untuk itu dibutuhkan pendidikan karakter yang dimulai dari yang paling dasar. "Ya sekarang ini juga sudah banyak yang kehilangan sosok keteladanan, disinilah peran guru diperlukan untuk membentuk karakter bangsa melalui pendidikan berkarakter," katanya. Seminar tersebut dihadiri sekitar 900 orang guru dan kepala sekolah di Solo, termasuk salah satu diantaranya Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia ( PB PGRI) Sulistiyo. |
| IMI berharap Prof Oppenheimer ungkap misteri kejayaan maritim RI Posted: 04 Jan 2012 05:33 AM PST Jakarta (ANTARA News) - Direktur Indonesia Maritime Institute, Y Paonganan mengharapkan, agar Profesor Stephen Oppenheimer dari Oxford University, mengungkap misteri kejayaan maritim Indonesia. Paonganan dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu, mengatakan harapan tersebut terkait dengan rencana kedatangan Prof Oppenheimer sebagai pembicara utama (Keynote Speaker) pada 4th International Conference on Indonesian Studies, 9-11 Pebruari 2012 di Denpasar, Bali. Menurut Paonganan, informasi rencana kedatangan penulis buku "Eden of The East" yang legendaris itu berasal dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Bambang Wibawarta tentang penyelenggaran 4th International Conference on Indonesian Studies tersebut. Dia menyambut baik rencana kedatangan Profesor Oppenheimer dan berharap dapat menyibak sejarah kejayaan maritim Indonesia yang belum banyak diungkap. "Bayangkan, di Buku Majapahit: Peradaban Maritim, ditulis Irawan Djoko Nugroho dikatakan bahwa jumlah perahu milik Majapahit ada lebih dari 2.800 buah perahu dan Kerajaan China pada waktu itu hanya 100 buah kapal, sedangkan Kerajaan Portugis hanya 43 buah kapal. Apalagi, katanya, pada acara di Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief, salah satu pakar yang hadir Dr Danny Hilman dari Tim Katastropik menjelaskan secara geologis bahwa ternyata situs Kerajaan Majapahit yang terkubur di Trowulan, terdiri dari 3 lapis peradaban yang berbeda zaman. "Itu artinya masih banyak sekali misteri yang belum terungkap di Indonesia, termasuk misteri kejayaan maritim," demikian Paonganan.(*) |
| SMK 1 Semarang bersiap buat truk kecil Posted: 04 Jan 2012 01:05 AM PST Semarang (ANTARA News) - Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Semarang bersiap untuk memproduksi kendaraan truk kecil (mini truck) diawali dengan perakitan komponen-komponen kendaraan yang didatangkan dari China. "Kami datangkan sejumlah komponen mobil dari Pabrik Dongfeng China dan sudah tiba sejak pertengahan Desember 2011 kemarin," kata Kepala SMK Negeri 1 Semarang M Sudarmanto, di sela proses perakitan di Semarang, Rabu. Di bengkel sekolah itu, satu kendaraan truk kecil berbentuk mirip mobil pikap dengan ukuran sedikit lebih besar sudah terpajang, sedangkan satu unit lagi tengah dalam proses perakitan oleh siswa dan guru. Ia menjelaskan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan bantuan sekitar 300 unit mobil kepada sekitar 23 SMK di Indonesia dan setiap sekolah akan mendapatkan sekitar 12 unit masih dalam bentuk komponen. "Komponen-komponen ini dirakit oleh sekolah menjadi mobil utuh, kemudian dijadikan percontohan bagi sekolah. Nantinya, sekolah harus bisa membuat komponen-komponen sampai merakitnya menjadi mobil," katanya. Untuk komponen "minitruck" itu, ia mengakui sekitar 60 persen masih impor, seperti mesin dan transmisi, sedangkan 30 persennya merupakan produksi dalam negeri, seperti bak "minitruck", dashboard, dan roda. Menurut dia, setiap sekolah memang dibedakan tipe mobil yang dijadikan proyek percontohannya, untuk SMK Negeri 1 Semarang difokuskan tipe pikap dan truk kecil, di sekolah lain untuk tipe berbeda. Ditanya kesiapan memproduksi mobil sendiri, ia menyatakan target dari Kemendikbud tahun depan sekolah harus sudah bisa membuat mobil sendiri, dan SMK Negeri 1 Semarang akan berupaya memenuhi target tersebut. "Kalau untuk sepeda motor, kebetulan kami sudah memproduksi sendiri dengan 75 persen komponen produksi lokal bekerja sama dengan Kanzen. Untuk mobil, kami akan siapkan secara maksimal," kata Sudarmanto. Untuk nilai bantuan dari Kemendikbud itu, ia menyebutkan, nilainya sekitar Rp1 miliar untuk pembelian 12 unit kendaraan truk kecil yang belum dirakit, dan sementara ini baru dua unit yang sudah datang. Senada dengan itu, Koordinator Perakitan SMK Negeri 1 Semarang Bambang Wijanarko menjelaskan, biaya produksi satu unit "mini truck" itu berkisar Rp75-85 juta dengan waktu perakitan manual 2-3 hari/unit. "Kendaraan truk kecil ini kapasitas mesinnya sebesar 1.500 cc. Dari dua unit truk kecil yang didatangkan dari China, baru satu unit ini yang selesai dirakit dan sudah diuji coba oleh tim sekolah," katanya. Pada kesempatan itu, truk kecil berwarna putih rakitan siswa SMK Negeri 1 Semarang itu sempat diuji coba oleh tim dengan berputar di halaman sekolah, sekaligus mengecek fungsi indikator dan lampu-lampu. (KR-ZLS/Y008) |
| Pendidikan belum cetak anak kreatif Posted: 04 Jan 2012 12:00 AM PST Surabaya (ANTARA News) - Mantan menteri perindustrian Fahmi Idris yang juga Pembina LP3I menilai sistem pendidikan di Indonesia belum mencetak anak-anak yang kreatif, melainkan hanya mencetak anak-anak yang pintar. "Itu karena sistem pendidikan kita terlalu banyak memiliki mata pelajaran sehingga mengesampingkan kreatifitas dan mendidik anak hanya mahir menghafal dan menghafal," katanya di Surabaya, Rabu. Ia mengemukakan hal itu disela wisuda ke-12 untuk 210 lulusan Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) kampus Surabaya yang juga dihadiri Duta LP3I Hj Marissa Haque dan suaminya Ikang Fawzi. Menurut politisi Golkar itu, sistem pendidikan di Indonesia seperti itu sebenarnya tidak salah, tapi perlu diperbaiki untuk menyesuaikan dengan kebutuhan sekarang yakni anak-anak yang kreatif dan inovatif, bukan mahir menghafal pelajaran. "Banyak orang tua dan perusahaan selaku pengguna yang mengeluhkan sistem pendidikan yang cenderung mencetak anak yang mahir menghafal tapi tidak kreatif, padahal dunia sekarang lebih membutuhkan anak yang kreatif dan inovatif," katanya. Di negara lain seperti Singapura, siswa SD hingga SMA tidak diberi mata pelajaran terlalu banyak, tapi anak didik diberi kesempatan berkreasi sehingga mereka didorong menjadi anak-anak yang kreatif dan inovatif. "Di Indonesia memang sudah ada beberapa mata pelajaran yang mengarah ke sana, seperti merakit robot, tapi saya kira ketrampilan yang mengundang daya kreasi itu harus lebih diperbanyak dan buka materi menghafal yang ditambah," katanya. Didampingi "Branch Manager LP3I Business College Surabaya` Kunto Wihadi, ia mencontohkan LP3I yang memiliki 48 cabang se-Indonesia sebaga lembaga pendidikan yang berusaha mencetak anak didik yang terampil, sehingga perusahaan selaku pengguna tidak perlu melatih lagi. "Pengguna pendidikan kita membutuhkan anak didik yang menjadi entrepreneurship dan tenaga terampil, maka LP3I mengambil peran dengan mendidik tenaga terampil itu, tapi LP3I juga mencetak anak-anak kreatif yang menjadi entrepreneur," katanya. Di hadapan ratusan wisudawan dan orang tuanya, Fahmi Idris yang juga anggota dewan Penasehat DPP Partai Golkar itu menyampaikan pentingnya "trust" (kepercayaan) dalam dunia bisnis dan industri. "Kalau kita dipercaya, maka peluang akan datang menghampiri kita. Ada lima cara untuk mendapatkan `trust` yakni skill (keahlian tertentu), komitmen (tepat janji), mampu berkomunikasi, perilaku baik, dan mau belajar," katanya. Senada dengan itu, Duta LP3I Hj Marissa Haque menyatakan pintar saja memang tidak cukup dalam dunia praktis, melainkan butuh integritas. "Ciri manusia Indonesia itu banyak mengeluh, nah dunia praktis justru membutuhkan manusia yang tahan banting. Pintar tapi mondok di Pesantren KPK buat apa?," katanya. Dalam kesempatan itu, aktor Ikang Fawzi sempat menghibur wisudawan dengan lagu "Preman" dan "Kebyar-Kebyar". "Hiburan itu penting, karena inti persaingan itu merebut hati konsumen, sehingga ada edu-tainment, bahkan properti juga ada property-tainment," katanya. Selain itu, wisuda juga ditandai dengan penyerahan penghargaan kepada alumni yang menjadi "entrepreneur" seperti Andiran Wicaksono yang sukses mengembangkan "outbound training" serta sejumlah dunia industri yang menjalin kerja sama dengan LP3I Surabaya. (ANTARA) |
| You are subscribed to email updates from ANTARA News - Nasional - Pendidikan To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |