Kutilang Bisa Mencium Bau - Sains KOMPAS |
- Kutilang Bisa Mencium Bau
- Begini Selubung Waktu Menyembunyikan Sesuatu
- Musim Panas yang Lebih Panas Picu Musim Dingin Ekstrem
- Siklon Heidi Pengaruhi Gelombang Laut Indonesia
- Bimasakti Ternyata Berwarna Putih Salju
| Posted: 13 Jan 2012 08:08 PM PST Kutilang Bisa Mencium Bau Yunanto Wiji Utomo | Inggried Dwi Wedhaswary | Sabtu, 14 Januari 2012 | 07:35 WIB
BIELEFELD, KOMPAS.com - Banyak ilmuwan berpandangan bahwa burung yang bisa berkicau tidak bisa mencium bau. Pandangan ini berkembang didasarkan pada sebuah riset tahun 1968 yang mengungkap bahwa lobus olfactory pada otak burung ini lebih kecil dari burung lainnya. Namun, studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Biology Letters menyatakan hal sebaliknya. Burung yang bisa berkicau, spesifiknya kutilang zebra, tetap bisa mengenali bau. E Tobias Krause, biolog dari Bielefeld University di Jerman yang melakukan penelitian menyebutkan bahwa walau area olfactory pada kutilang zebra kecil, tetapi tetap dapat berperan dalam menunjang fungsi penciuman. Untuk mendapatkan hasil ini, Krause melakukan eksperimen menarik. Ia menetaskan telur kutilang zebra, lalu meletakannya di tempat-tempat berbeda. Pada umur 20-23 hari setelah menetas, setiap burung dipaparkan pada bau tertentu yang berasal dari sarang tempat telur menetas dan sarang yang berfunhsi sebagai tempat perkembangannya setelah mentas. "Mereka ternyata memilih sarang dari parental genetiknya," kata Krause, seperti dikutip New York Times, Senin (9/1/2012). Menurut Krause, kutilang zebra mungkin menggunakan penciuman untuk mengenali kerabatnya. Hasil penelitian masih terbatas pada kutilang zebra. Namun, diduga bahwa jenis burung berkicau lain juga bisa mencium. Penelitian selanjutnya adalah melihat apakah kemampuan mencium itu alami atau karena pembelajaran dari lingkungan. |
| Begini Selubung Waktu Menyembunyikan Sesuatu Posted: 13 Jan 2012 03:59 PM PST Begini Selubung Waktu Menyembunyikan Sesuatu Yunanto Wiji Utomo | Laksono Hari W | Jumat, 13 Januari 2012 | 23:59 WIB
NEW YORK, KOMPAS.com - Pernahkah Anda melakukan kesalahan atau hal-hal memalukan di masa lalu? Dengan selubung waktu, Anda mungkin dapat menyembunyikannya sehingga seolah tak pernah terjadi. Hal semacam itu kelihatannya mustahil terjadi. Namun, para ilmuwan optimistis bahwa hal itu bisa diwujudkan meskipun tidak dalam waktu dekat. Moti Fridman dan timnya dari Universitas Cornell di Amerika Serikat, misalnya, telah menciptakan lubang alias selubung waktu lewat manipulasi sinar laser. Dalam artikel "Lubang Waktu Bisa Diciptakan," Fridman menguraikan bagaimana selubung waktu bisa menyembunyikan sebuah peristiwa yang sangat singkat. Memang agak susah membayangkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Video di bawah ini akan memberi gambaran bagaimana selubung waktu yang diciptakan Fridman bekerja. Dalam video yang dipublikasikan oleh New Scientist, Kamis (12/1/2012), itu terdapat sinar warna merah yang merupakan sinar laser serta sinar warna hijau yang merupakan sinar yang berasal dari suatu benda. Kunci menciptakan selubung waktu di sini adalah memotong sinar yang berasal dari benda sehingga tidak sampai ke mata orang yang melihatnya. Awalnya, laser yang berwarna merah memotong sinar hijau. Tampak bahwa sinar hijau berubah warna pelangi dan terputus. Celah antara dua sinar hijau yang terputus inilah yang disebut selubung waktu. Video ini juga mendemonstraikan bahwa ketika bola melewati celah tersebut, bola itu menghilang. Ini artinya, bola itu tetap menggelinding, tapi tidak terlihat oleh mata manusia. Selubung waktu yang diciptakan Fridman memang masih sangat singkat, cuma mampu menyembunyikan objek selama 15 picodetik alias 15 per satu triliun detik. Jadi, masih perlu kerja keras untuk menciptakan selubung waktu dengan durasi lebih lama. Selubung waktu ini bisa sangat bermanfaat dalam teknologi transfer data. Penyisipan data bisa dilakukan tanpa gangguan. Asal tak disalahgunakan oleh orang-orang yang ingin berbuat jahat, alangkah menariknya jika hal itu bisa diwujudkan, bukan? |
| Musim Panas yang Lebih Panas Picu Musim Dingin Ekstrem Posted: 13 Jan 2012 03:41 PM PST Penelitian Iklim Musim Panas yang Lebih Panas Picu Musim Dingin Ekstrem Dahono Fitrianto | Nasru Alam Aziz | Jumat, 13 Januari 2012 | 23:41 WIB
TERKAIT: SINGAPURA, KOMPAS.com -- Para peneliti dari firma riset Atmospheric and Environmental Research di AS menemukan sebuah pola yang menunjukkan bahwa musim panas yang lebih panas dari biasanya di Belahan Bumi Utara ternyata mengganggu pola cuaca dan memicu musim dingin ekstrem yang terjadi di kawasan AS dan Eropa. Jucah Cohen, ketua tim riset yang mempublikasikan temuan mereka di jurnal ilmiah Environmental Research Letters, Jumat (13/1/2012), mengatakan ada kecenderungan pemanasan suhu udara di kawasan Artik dekat Kutub Utara pada periode Juli sampai September. Prakiraan selama ini menyebutkan, tren pemanasan suhu udara itu juga akan terjadi pada musim dingin. Namun, Cohen dan timnya menemukan prakiraan itu tidak selalu tepat untuk seluruh kawasan, yang menunjukkan bahwa sistem iklim Bumi sangatlah kompleks. "Selama dua dekade terakhir, kecenderungan pendinginan skala besar justru terjadi di kawasan luas di sekitar Amerika Utara sebelah timur dan Eurasia sebelah utara. Kami menduga tren yang tidak terprakirakan sebelumnya ini kemungkinan tidak bergantung pada variabilitas internal saja," ujar ilmuwan tersebut. Dengan melihat data suhu udara, curah hujan, salju, dan es, tim tersebut menemukan bahwa pemanasan suhu udara pada musim panas di kawasan Artik menyebabkan atmosfer menyimpan kandungan uap air yang lebih besar, yang akan memicu peningkatan curah hujan salju pada musim gugur di daerah-daerah yang terletak di koordinat lintang tinggi (di atas 60 derajat Lintang Utara). Analisis data tersebut juga menunjukkan, sebaran salju rata-rata di kawasan Eurasia telah meningkat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Penambahan salju ini pada gilirannya memicu perubahan Osilasi Artik, yakni pola tekanan atmosfer utama yang menentukan pola cuaca musim dingin di Belahan Bumi Utara. Saat osilasi ini berada di fasa negatif, sel-sel cuaca bertekanan tinggi di kawasan Artik akan mendorong udara dingin ke kawasan di koordinat lintang menengah (antara 23 derajat Lintang Utara sampai 66 derajat Lintang Utara), memicu suhu yang lebih rendah dari biasanya dan badai salju dahsyat. Penelitian yang dilakukan Cohen dan kawan-kawan ini adalah satu dari berbagai studi terbaru yang mengungkapkan kompleksitas sistem iklim dunia dan bahwa para ilmuwan pun masih mempelajari seberapa besar pengaruh manusia dan faktor-faktor alami terhadap pola iklim jangka panjang. |
| Siklon Heidi Pengaruhi Gelombang Laut Indonesia Posted: 13 Jan 2012 11:55 AM PST JAKARTA, KOMPAS.com - Siklon Heidi yang menerjang perairan Australia bagian barat memengaruhi tinggi gelombang perairan wilayah Indonesia selatan. Kepala Sub Bidang Cuaca Ekstrim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kukuh Ribudiyanto mengatakan, kendati siklon tersebut telah memasuki wilayah daratan Australia, tetapi gelombang laut di Indonesia masih tinggi. Di wilayah Jawa bagian selatan, kata Kukuh, gelombang tinggi masih akan terjadi hingga pada 7 hari mendatang. "Di perairan selatan Indonesia gelombang masih tinggi, bisa 3-4 meter karena dipengaruhi sisa siklon Heidi. Meskipun hal itu sudah habis atau masuk daratan tapi masih berdampak," ujar Kukuh di Jakarta, Jumat (13/1/2012). Gelombang tinggi diperkirakan juga terjadi di Laut Cina Selatan hingga Selat Karimata dengan ketinggian gelombang 2-4 meter. Adapun di Laut Jawa utara hingga perairan Sulawesi barat daya hanya setinggi 1,5 hingga 2 meter. "Tentu untuk nelayan dengan perahu kecil, gelombang di atas 2 meter amat berisiko. Namun, jika kapal besar, saya rasa tergantung keputusan PT ASDP untuk berani mengoperasikan kapal atau tidak," kata Kukuh. Kukuh menambahkan, ketinggian gelombang di Selat Sunda bagian selatan berpotensi hingga 2 meter. Adapun tinggi gelombang di Pelabuhan Merak kemungkinan lebih kecil. "Berdasarkan pencitraan satelit, gelombang di jalur penyeberangan Merak-Bakauheni diperkirakan setinggi 0,5-1,5 meter," kata Kukuh. Pada beberapa hari terakhir, tinggi gelombang di jalur pelayaran itu mencapai 1,8 meter dengan kecepatan angin rata-rata 24 kilometer per jam. Mengenai kondisi angin, Kukuh menyebutkan, kecil kemungkinan adanya angin ekstrem di Jakarta, dengan kriteria angin ekstrem di atas 25 knot yang setara dengan sekitar 46 kilometer per jam. Potensi angin kencang ada di wilayah Denpasar, Nusa Tenggara Timur bagian barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara bagian utara dengan kemungkinan disertai hujan deras. Siklon Tropis Heidi menerjang Australia bagian barat dan memutus aliran listrik pada setidaknya 3.500 tempat tinggal. Kecepatan angin rata-rata siklon tersebut di mencapai 150 kilometer per jam Port Hedland. |
| Bimasakti Ternyata Berwarna Putih Salju Posted: 13 Jan 2012 09:58 AM PST Bimasakti Ternyata Berwarna Putih Salju Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Jumat, 13 Januari 2012 | 17:58 WIB
TERKAIT: TEXAS, KOMPAS.com - Astronom sejak lama bertanya-tanya bagaimana warna Bimasakti jika dilihat dari luar. Pertanyaan itu akhirnya terjawab dari hasil penelitian Jeffrey Newman, ilmuwan Universitas Pittsburg yang diumumkan di pertemuan American Astronomical Society ke 219 di Texas, Kamis (12/1/2012). "Deskripsi terbaik yang bisa saya berikan adalah jika Anda melihat salju di awal musim semi, yang memiliki butiran salju halus, sekitar satu jam setelah fajar atau satu jam sebelum Matahari terbenam," papar Newman seperti dikutip BBC, Kamis kemarin. Dengan kata lain, Bimasakti sebenarnya memiliki warna putih. Selain bagai salju, Bimasakti juga bisa diibaratkan berwarna antara lampu pijar kuno dengan cahaya Matahari pada tengah hari. Keduanya berwarna putih, namun sedikit berbeda satu sama lainnya. Informasi tentang warna galaksi ini bisa menjadi penting bagi astronom. "Warna galaksi itu mengatakan pada kita seberapa tua bintang yang ada di galaksi itu, kapan galaksi itu membentuk bintang. Apakah bintang-bintang yang ada terbentuk saat ini atau miliaran tahun yang lalu," papar Newman. Berdasarkan warna yang didapatkan, Newman mengungkapkan bahwa Bimasakti saat ini tengah ada pada tahap evolusi yang menarik. Tingkat pembentukan bintang berkurang seiring waktu. Apa yang terjadi kemudian masih teka-teki dan selalu menarik untuk dipelajari. |
| You are subscribed to email updates from KOMPAS.com - Sains To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |