Tuesday, January 3, 2012

Angkor Kolaps karena Kekeringan - Sains KOMPAS

Angkor Kolaps karena Kekeringan - Sains KOMPAS


Angkor Kolaps karena Kekeringan

Posted: 03 Jan 2012 02:22 PM PST

Angkor Kolaps karena Kekeringan

Yunanto Wiji Utomo | Latief | Selasa, 3 Januari 2012 | 22:22 WIB

Cambridge University Angkor Wat

CAMBRIDGE, KOMPAS.com - Angkor, kota tua di Kamboja, tempat kerajaan Khmer sempat berjaya pada abad 9-15 dan tempat berdirinya bangunan Angkor Wat, diduga kolaps karena kekeringan. Kesimpulan tersebut merupakan hasil studi Mary Beth Day, pakar limnologi dari Universitas Cambridge di Inggris. 

Ketika Angkor kolaps, ada penurunan level air. Dan, lebih sedikit sedimen yang dikirimkan ke baray.

-- Mary Beth Day

Day adalah ilmuwan yang mempelajari sebab-sebab runtuhnya Angkor. Ia mengatakan, Angkor memiliki sistem penyaluran air meliputi kanal, parit, dan dam penampung air yang disebut baray. Sistem tersebut berguna untuk mencegah wilayah kota dari kekeringan.

"Ketika Angkor kolaps, ada penurunan level air. Dan, lebih sedikit sedimen yang dikirimkan ke baray," kata Day.

Day menjelaskan, populasi Angkor mungkin telah tumbuh pesat saat itu dan tanah mungkin telah ditekan karena penggunaan yang agresif.

"Sedimen yang dikirim ke dam selama masa Angkor lebih lapuk dibandingkan sedimen yang dikirimkan setelah kolaps. Tanah digunakan secara agresif untuk pertanian," urai Day seperti dikutip New York Times, Senin (2/1/2012).

Penggunaan tanah berlebihan dan turunnya level air, serta sedimen menyebabkan sistem penyaluran air tak berfungsi. Akibatnya, terjadilah kekeringan yang memicu kolapsnya kota.

Studi tersebut dilakukan dengan mengambil sampel tanah untuk melihat karakter fisik, kelimpahan elemen dan material lainnya. Hasil studi diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences.

Peneliti Malaysia Temukan Dua Spesies Baru Rafflesia

Posted: 03 Jan 2012 11:26 AM PST

Peneliti Malaysia Temukan Dua Spesies Baru Rafflesia

Yunanto Wiji Utomo | Laksono Hari W | Selasa, 3 Januari 2012 | 19:26 WIB

The Star Rafflesia jenis baru dari Ulu Dong, Malaysia, yang ditemukan oleh Kepala Frasers Hill Research Center Malaysia, Jumaat Adam.

RAUB, KOMPAS.com — Malaysia punya dua spesies rafflesia baru. Kepala Frasers Hill Research Center Malaysia, Jumaat Adam, dan rekannya berhasil menemukan spesies tersebut di Hutan Lata Jarum di wilayah Ulu Dong, Raub.

"Saya masih mempelajari penemuan ini. Kita masih harus melakukan pengecekan silang dengan ciri spesies rafflesia lain untuk bisa mengonfirmasinya," kata Jumaat sebagaimana dimuat The Star, Senin (2/1/2012).

Jumaat merupakan pionir peneliti Rafflesia di Universiti Kebangsaan Malaysia. Ia tidak bersedia mengungkapkan lokasi spesifik penemuan rafflesia itu dengan alasan konservasi. Namun, ia mengatakan bahwa dua rafflesia tersebut memiliki keunikan.

Jumaat mengatakan, rafflesia yang ditemukannya memiliki diafragma lebih lebar. Diafragma adalah lubang tengah bunga di mana serangga biasa masuk terperangkap ke dalamnya. Ia mengatakan, spesies rafflesia lain yang ditemukan di Malaysia memiliki diameter sekitar 10 cm. Namun, rafflesia yang baru ditemukannya berdiameter 14 cm.

Karena masih harus dilakukan studi, maka dua rafflesia yang ditemukan belum diberi nama khusus. Selain ukuran lebih besar, rafflesia yang ditemukan juga memiliki tangkai sari lebih banyak.

Manusia Modern Lebih Rentan Dampak Badai Matahari

Posted: 03 Jan 2012 10:38 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Manusia modern ternyata lebih rentan terhadap dampak badai Matahari. Demikian dikatakan astrofisikawan dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) ketika dihubungi Kompas.com, Senin (2/1/2012) malam.

"Kita sekarang banyak tergantung pada sistem telekomunikasi yang mengandalkan satelit. Karena ketergantungan itulah, sekarang ada peringatan badai Matahari," jelas Thomas.

Menurut Thomas, energi yang dilepaskan badai Matahari bisa menembus lapisan ionosfer di atmosfer Bumi. Karena lapisan ini digunakan untuk komunikasi satelit, maka fungsi satelit saat badai Matahari besar terjadi bisa terganggu.

Apa dampak yang bisa dibayangkan? Satelit tak berfungsi, jelas. Di samping itu, manusia mungkin tak bisa lagi telepon lewat ponsel, tak bisa SMS, apalagi ber-Facebook dan Twitter.

Thomas mengatakan, syarat badai Matahari bisa berdampak signifikan pada Bumi adalah memiliki kelas Medium (M) atau Ekstrim (X) serta mengarah ke Bumi.

Dampak badai Matahari pada telekomunikasi pernah dirasakan pada tahun 2003, dimana satu satelit Jepang sempat tak berfungsi. Badai Matahari pada tahun tersebut adalah salah satu yang terbesar, terjadi setelah aktivitas Matahari memuncak tahun 2001.

Dampak badai Matahari yang lebih besar juga pernah terjadi pada tahun 1989. Akibat badai Matahari, pembangkit listrik tak bekerja dan wilayah Quebec, Kanada, gelap total selama 9 jam.

Situasi berbeda dijumpai saat badai Matahari menerjang Bumi pada tahun 1859. Saat itu, masyarakat masih menggunakan telegraf. Meski jaringan telegraf terputus saat itu, namun dampaknya tak akan sesignifikan bila badai Matahari menerjang Bumi saat ini.

NASA memperkirakan, bila badai Matahari tahun 1859, yang merupakan terbesar sepanjang sejarah, terjadi lagi, maka kerugiannya bisa mencapai 2 trilliun dollar AS.

Lalu, apa yang harus dilakukan sekarang? LAPAN dan Observatorium Bosscha sudah melakukan pemantauan aktivitas Matahari dan badai Matahari yang mungkin bisa terjadi. Hasil pantauan akan digunakan sebagai early warning system. Sementara itu, masyarakat hanya perlu waspada tanpa panik. Badai Matahari tidak akan mengakibatkan apapun kecuali yang disebut di atas, tidak juga kiamat.

Bosscha Terus Pantau Badai Matahari

Posted: 03 Jan 2012 09:35 AM PST

Bosscha Terus Pantau Badai Matahari

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Selasa, 3 Januari 2012 | 17:35 WIB

KOMPAS/YULVIANUS HARJONO Teropong matahari di Observatorium Bosscha.

JAKARTA, KOMPAS.com — Observatorium Bosscha di Bandung terus memantau badai Matahari yang diperkirakan meningkat frekuensinya selama 2012 dan 2013 akibat peningkatan aktivitas Matahari. Demikian dikatakan Kepala Observatorium Bosscha, Hakim L Malasan, saat dihubungi Selasa (3/1/2012).

"Kita secara terus-menerus juga memantau aktivitas Matahari dan badai Matahari, bekerja sama dengan Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional)," jelas Hakim.

Menurut Hakim, Observatorium Bosscha adalah salah satu observatorium di dunia yang bertugas mengamati aktivitas Matahari. Hasil pengamatan nantinya akan dikirimkan ke National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang berpusat di Amerika Serikat.

"Hasilnya nanti akan digunakan untuk menyusun early warning system sehingga bisa dipakai pihak terkait untuk melakukan sosialisasi pada masyarakat tentang dampaknya," kata Hakim.

Menurut Hakim, badai Matahari kelas Medium (M) dan Ekstrem (X) yang mengarah ke Bumi bisa mengakibatkan gangguan komunikasi lewat telepon dan satelit, gangguan sistem perbankan seperti pada ATM, serta gangguan navigasi penerbangan serta bisa mengakibatkan gangguan kelistrikan.

"Astronom sekarang berperan untuk melakukan pengamatan Matahari dan menyusun early warning system. Selanjutnya, tergantung pada pihak lain yang berwenang," cetus Hakim.

Hakim menjelaskan, pemerintah seharusnya merespons ancaman badai Matahari. Setiap satelit yang dirancang seharusnya dilengkapi dengan pelindung terhadap risiko badai Matahari. Saat ini, kata Hakim, belum diketahui apakah satelit Palapa yang dimiliki Indonesia sudah dilindungi.

Hujan Meteor Perdana di Panggung Langit 2012

Posted: 03 Jan 2012 09:32 AM PST

Hujan Meteor Perdana di Panggung Langit 2012

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Selasa, 3 Januari 2012 | 17:32 WIB

NASA Hujan Meteor Quadranid yang direkam NASA pada tahun 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Malam ini, Selasa (3/1/2012) malam hingga Rabu (4/1/2012), akan diramaikan dengan hujan meteor Quadranid. Ya, hujan meteor perdana yang akan membuka panggung langit 2012 itu memuncak malam ini.

Tak seperti hujan meteor di tahun 2011 yang banyak dikaburkan oleh cahaya Bulan, hujan meteor Quadranid malam ini berlangsung di langit yang lebih gelap. Berdasarkan informasi NASA, sekitar 100 meteor per jam akan bisa disaksikan.

Waktu terbaik untuk menyaksikan hujan meteor ini adalah saat dini hari. Untuk menyaksikannya, carilah lahan yang lapang dan relatif bebas polusi cahaya. Hujan meteor bisa disaksikan dengan mata telanjang di arah utara.

Satu halangan utama yang mungkin akan dialami pengamat Indonesia saat ini adalah awan dan hujan. Jadi, berdoa saja agar panggung langit malam ini tidak ditutupi oleh tirai awan. Kalau hujan terjadi, pupus sudah harapan menyaksikan hujan meteor ini.

Berdasarkan publikasi Space, Senin (2/1/2012), hujan meteor Quadranid berasal dari asteroid 2003 EH1, pertama kali dilihat tahun 1825. Hujan meteor sendiri disebabkan karena adanya debu asteroid yang ditinggalkan seiring pergerakannya.

Meteor Quadranid akan bergerak dengan kecepatan 145.000 km per jam. Hujan meteor akan terbentuk ketika debu asteroid bersinggungan dengan atmosfer Bumi. Mereka akan terbakar pada ketinggian sekitar 80 km dari permukaan Bumi, menghasilkan bola api meteor.

Nama hujan meteor Quadranid berkaitan dengan konstelasi Quadrans Muralis, tepat hujan meteor itu seolah-olah datang. Konstelasi itu terletak di antara konstelasi Bootes dan Draco. Quadrans Muralis dinamai oleh astronom Perancis Jerome Lalade tahun 1795.

Selamat mengamati dan semoga tidak hujan. Bagi yang berhasil mengamati, jangan sungkan untuk berbagi dengan Kompas.com. Kirimkan gambar beserta deskripsi pengamatan ke Facebook Kompas Sains agar lebih banyak orang menikmati keindahannya.