Monday, January 9, 2012

Fisika Ekor Bengkok pada Kadal Lompat - Sains KOMPAS

Fisika Ekor Bengkok pada Kadal Lompat - Sains KOMPAS


Fisika Ekor Bengkok pada Kadal Lompat

Posted: 09 Jan 2012 12:28 PM PST

Fisika Ekor Bengkok pada Kadal Lompat

Yunanto Wiji Utomo | Laksono Hari W | Senin, 9 Januari 2012 | 20:28 WIB

muller.lbl.gov Agama agama atau kadal lompat memiliki ekor yang dapat dibengkokkan untuk membantu sang kadal saat melompat dan mendarat.

CALIFORNIA, KOMPAS.com - Tim peneliti yang dipimpin oleh Robert Full dari Universitas California di Berkeley meneliti kadal kepala merah agama (Agama agama). Mereka merekam perilaku spesies yang sering juga disebut kadal lompat tersebut.

Hasil rekaman menunjukkan bahwa kadal lompat memiliki perilaku unik. Saat melompat dari permukaan horizontal ke dinding vertikal, kadal ini selalu membengkokkan ekornya ke atas. Ekor itu baru turun ketika kadal sudah "mendarat".

Para ilmuwan mengatakan, dengan membengkokkan ekor, kadal ini mendapatkan gerakan searah jarum jam dan efek ayunan berlawanan arah jarum jam di bagian depan tubuhnya. Dengan cara ini, kadal  mendarat dengan selamat bersama kaki yang mencengkeram dinding.

Dalam fisika, perilaku kadal lompat ini terkait dengan konsep momen inersia. Dengan mengayunkan bagian tubuh ke arah tertentu, maka sebenarnya kadal sedang mencondongkan bagian tubuh lain ke arah yang sebaliknya. Tujuannya menjaga keseimbangan tubuh si kadal.

Full mencoba mengadaptasi perilaku kadal pada robot. Ia membuat robot mobil seukuran kadal yang dilengkapi ekor. Saat robot ini dapat melompat di mana bagian depan akan mendarat lebih dulu. Namun, sudut datang ini dikoreksi dengan ekor sehingga robot yang dinamai Tailbot ini mendarat dengan rodanya.

Seperti diberitakan AFP, Rabu (4/1/2012), Full mengatakan bahwa bukan hanya kadal lompat yang memiliki strategi gerak seperti itu. Spesies lain seperti lemur dan bahkan dinosaurus berkaki dua pun memiliki strategi serupa.

Inilah Wajah-wajah Nenek Moyang Manusia

Posted: 09 Jan 2012 10:20 AM PST

Inilah Wajah-wajah Nenek Moyang Manusia

Yunanto Wiji Utomo | Laksono Hari W | Senin, 9 Januari 2012 | 18:20 WIB

Daily Mail Sahelanthropus tchadensis

Daily Mail Homo erectus

Daily Mail Homo neanderthalensis

Daily Mail Homo rudolfensis

Foto:

DRESDEN, KOMPAS.com - Alkisah, spesies manusia pertama kali muncul di Afrika dan kemudian menyebar ke seuruh penjuru Bumi. Dalam penyebarannya, proses evolusi berlangsung, menyesuaikan dengan tempat tinggal serta gaya hidup.

Ada beragam fosil nenek moyang manusia alias manusia purba yang ditemukan. Namun, banyak penemuan tak disertai dengan gambaran wajah manusia purba yang sebenarnya. Alhasil, manusia saat ini pun kesulitan membayangkan leluhurnya.

Sebuah pameran di Dresden, Jerman, akhir-akhir ini berupaya menyajikan wajah manusia purba yang lebih realistik. Ilmuwan yang ikut terlibat menggunakan teknik digitalisasi komputer untuk menggambarkan 27 wajah manusia purba yang direkonstruksi berdasarkan fosil yang ditemukan.

Salah satu yang digambarkan adalah Sahelanthropus tchadensis. Spesies itu adalah spesies manusia paling purba, hidup 7 juta tahun lalu, sebelum manusia dan simpanse terpisah secara genetik berdasarkan teori evolusi.

Spesies lain adalah Homo rudolfensis yang hidup 2 juta tahun lalu. Berdasarkan hasil rekonstruksi, spesies ini memiliki rahang lebar, hidung pesek, mata relatif sempit, serta dahi kecil.

Tak ketinggalan pula Homo erectus yang hidup 1 juta tahun lalu. Satu teori menyebutkan bahwa spesies ini berasal dari Afrika, lalu bermigrasi ke India, China, dan Jawa. Teori lain menyebutkan bahwa spesies ini berasal dari Asia dan pindah ke Afrika.

Ada pula Homo neanderthalensis yang diperkirakan merupakan kerabat terdekat Homo sapiens, manusia modern. Jenis ini hidup sekitar 60.000 tahun lalu. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa manusia modern pernah kawin dengan spesies ini.

Ada banyak versi tentang asal usul manusia. Teori "Out of Africa" adalah yang paling kuat, tetapi banyak pula tandingannya. Pameran ini berupaya memperkenalkan lokasi penggalian di Afrika dan hasil penelitian para arkeolog dengan cara yang lebih menarik.

TNA, Material Genetik Paling Primitif

Posted: 09 Jan 2012 03:48 AM PST

TNA, Material Genetik Paling Primitif

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 9 Januari 2012 | 11:48 WIB

Nature Ilustrasi TNA (Therose Nucleic Acid)

ARIZONA, KOMPAS.com - Konsep kekinian biologi mengenal Asam Deoksiribonukleat (DNA) dan Asam Ribonukleat (RNA). Keduanya dianggap sebagai molekul dasar kehidupan atau material genetik dimana DNA mengendalikan kegiatan biologis dan pewarisan sifat sementara RNA berperan dalam sintesis protein.

RNA dipandang sebagai material genetik paling primitif. Jutaan tahun lalu, seluruh fungsi kehidupan bisa dilakukan oleh RNA, tanpa DNA. RNA bisa berfungsi menyimpan kode genetik sekaligus berperan dalam sintesis enzim untuk metabolisme.

Namun konsep bahwa RNA adalah yang paling primitif boleh jadi akan segera berubah. John Chaput, peneliti dari Universitas Arizona, Tempe, mengungkapkan bahwa ada material genetik yang lebih primitif, yakni TNA.

TNA berbeda dengan DNA dan RNA dari molekul gula penyusunnya. Jika RNA memiliki gula Ribosa dan DNA memiliki Deoksiribosa, maka TNA memiliki Thirosa, sehingga disebut sebagai Therose Nucleic Acid.

TNA saat ini tidak ditemukan keberadaanya di alam. Namun, Chaput telah berhasil membuatnya di laboratorium dan mengikatkan pada protein. Chaput melihat bahwa TNA berubah menjadi lebih kompleks dan bisa berfungsi layaknya RNA dalam mengikat protein.

Penelitian Chaput tentang TNA masih penelitian mula. Chaput mengatakan, penelitian saat ini masih menghadapi kendala sebab keterbatasan teknologi untuk membiarkan TNA berevolusi di laboratorium.

Dalam pandangan Chaput, TNA juga bukan satu-satunya material genetik yang lebih primitif dari DNA dan RNA. "Skenario paling mungkin adalah alam memiliki banyak sekali," kata Chaput seperti dikutip New Scientist, Minggu (8/1/2012).

Tapi, ada kelemahan dalam pandangan Chaput. Pertama, tidak ada jejak bahwa TNA memang "sepupu" dari DNA dan RNA. Kedua, belum ada ilmuwan yang membuat TNA dalam kondisi lingkungan sama seperti saat belum ada kehidupan. banyak penelitian masih harus dilakukan. Penelitian Chaput dipublikasikan di jurnal Nature.

Kopimisme, Agama Terbaru di Dunia

Posted: 09 Jan 2012 02:05 AM PST

Kopimisme, Agama Terbaru di Dunia

Yunanto Wiji Utomo | Heru Margianto | Senin, 9 Januari 2012 | 10:05 WIB

Kopimi Logo Kopimisme

STOCKHOLM, KOMPAS.com - Agama terbaru telah lahir di dunia dan diakui legalitasnya oleh pemerintah Swedia pada Rabu (5/1/2012). Agama itu diberi nama Kopimisme atau Gereja Kopimisme. Salah satu pendiri sekaligus pemuka agama tersebut adalah Isak Gerson, mahasiswa filsafat Universitas Uppsala yang masih berusia 20 tahun.

Menggandakan data dan menyebarkan informasi adalah legal, tak perlu copyright.

Dalam wawancara dengan majalah New Scientist, Jumat (6/1/2012) lalu, Gerson mengungkapkan, Kopimisme berdiri sekitar 15 bulan lalu. Kopimisme menganggap bahwa setiap informasi ialah suci dan praktik menggandakan informasi atau data juga suci.

"Kami punya salah satu ritual keagamaan di mana kami memuja nilai sebuah informasi dengan menggandakannya. Kami sering berkumpul, tapi tidak harus pada ruangan fisik, bisa juga di sebuah server atau web page," ungkap Gerson yang mendirikan Kopimisme bersama rekannya, Gustav Nipe.

Gerson mengungkapkan, Kopimisme juga punya simbol. "Ada logo Kopimi, huruf K yang ditulis di dalam sebuah bentuk piramida yang digunakan secara online untuk menunjukkan bahwa anda ingin digandakan. Kami juga punya simbol yang menunjukkan semangat menggandakan, misalnya CTRL-C dan CTRL-V (copy-paste)," katanya.

Kopimisme saat ini memiliki 3.000 anggota. Sejauh ini, Kopimisme belum berdialog dengan kalangan gereja umumnya. Namun menurut Gerson, kalangan yang diajaknya bicara menunjukkan ketertarikan. Saat ini, web Kopimisme sedang down, jika suatu saat sudah aktif, orang bisa mendaftar sebagai anggota Kopimisme lewat web.

Gerson mengungkapkan, dalam agamanya, menggandakan data dan menyebarkan informasi adalah legal, tak perlu copyright. Selain itu, Kopimisme juga tidak punya konsep kehidupan setelah mati, sebagai agama Kopimisme tidak terlalu fokus pada manusianya. Menurut Gerson, informasi sendiri tidak memiliki kehidupan dan bisa dilupakan. Cara menjaga informasi tetap lestari adalah dengan menggandakannya.

Stasiun Ruang Angkasa Melintas di depan Bulan

Posted: 08 Jan 2012 02:37 PM PST

Stasiun Ruang Angkasa Melintas di depan Bulan

| A. Wisnubrata | Minggu, 8 Januari 2012 | 22:37 WIB

NASA Stasiun ruang angkasa melintas di depan Bulan

KOMPAS.com - Dua orang juru foto telah mengabadikan peristiwa spektakuler yang menggambarkan bagaimana stasiun ruang angkasa internasional (ISS) melesat di langit malam dan terbang melintasi bulan sebelum akhirnya menyeberangi Jupiter.

Dalam salah satu seri foto, fotografer NASA Lauren Harnett menangkap gambar bulan pada saat stasiun ruang angkasa lewat di depannya dalam peristiwa yang oleh para ilmuwan sebut "transit."

Harnett mengambil foto pada Rabu, 4 Januari 2012 dari Johnson Space Center di Houston. Dia kemudian digabungkan foto-fotonya menjadi tampilan komposit yang menunjukkan ISS sebelum dan setelah menyeberangi bulan.

"Dia harus mendapatkan waktu yang tepat dengan jendela visibilitas yang terbatas oleh kabut dan awan, dan saya pikir dia punya beberapa hasil yang sangat baik," kata juru bicara NASA Mike Gentry.

Stasiun Ruang Angkasa Internasional adalah wahana antariksa terbesar yang pernah dibangun, dengan rangka utama lebih panjang dari lapangan sepak bola. Saat ini ISS menjadi rumah bagi enam orang (tiga orang Rusia, dua warga Amerika dan seorang astronot Belanda) dan mengorbit 390 kilometerdi atas Bumi pada kecepatan sekitar 28.000 kilometer per jam.

Pada kondisi tertentu, stasiun itu bisa terlihat lebih cemerlang dibanding Planet Venus dan dapat dilihat dengan mata telanjang oleh mereka yang tahu di mana mencarinya.