Ini Kemungkinan Lokasi Jatuhnya Phobos-Grunt di Indonesia - Sains KOMPAS |
- Ini Kemungkinan Lokasi Jatuhnya Phobos-Grunt di Indonesia
- Prediksi Baru, Phobos-Grunt Jatuh 16 Januari
- Panas Bikin Kadal Makin Pintar
- Cara Kaki Kecil Badak Menopang Tubuh Besar
- Tanaman Ini Pemakan Cacing
| Ini Kemungkinan Lokasi Jatuhnya Phobos-Grunt di Indonesia Posted: 11 Jan 2012 08:29 PM PST
JAKARTA, KOMPAS.com - Prediksi terbaru menyebutkan bahwa wahana Phobos-Grunt milik Rusia yang gagal menuju Phobos, bulan Mars, akan jatuh pada 16 Januari 2012. Selama rentang waktu 9-20 Januari 2012, Phobos-Grunt melewati wilayah Indonesia. Jadi, ada kemungkinan wahana tersebut jatuh di wilayah tanah air. Astronom Ma'rufin Sudibyo lewat Facebook, Rabu (11/1/2012) mengatakan, "Bagi Indonesia, daerah yang harus mewaspadai adalah Sulawesi Utara, pulau Buru, pulau Seram, pulau Irian dan pulau Biak bagi kawasan timur." Sementara itu, bagi kawasan Indonesia barat, daerah yang harus mewaspadai adalah seluruh pulau Sumatra, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Sejauh ini, tidak ada prediksi pasti dimana dan kapan Phobos-Grunt jatuh. Rentang wilayah jatuhnya wahana ini sangat lebar, 51 derajat LU hingga 51 derajat LS. Ma'rufin mengingatkan, "Perhatian terbesar harus difokuskan ke Laut Arafura dan pulau Irian, karena di sinilah kemungkinan terbesar Phobos-Grunt bakal jatuh." Kemungkinan wahana jatuh di daratan atau kawasan padat penduduk kecil. Namun demikian, kemungkinan tetap ada sehingga perlu diwaspadai. Ma'rufin mengingatkan bahwa jika wahana nanti benar-benar jatuh di daratan, warga diminta untuk tidak mendekati ataupun menyentuhnya. Warga juga diminta melaporkan ke pihak berwenang, yakni Lembaga Antariksa dan penerbangan Nasional (Lapan). |
| Prediksi Baru, Phobos-Grunt Jatuh 16 Januari Posted: 11 Jan 2012 06:21 PM PST Prediksi Baru, Phobos-Grunt Jatuh 16 Januari Yunanto Wiji Utomo | Laksono Hari W | Kamis, 12 Januari 2012 | 02:21 WIB
TERKAIT: JAKARTA, KOMPAS.com - Satelit antariksa Phobos-Grunt milik Rusia diperkirakan jatuh ke Bumi sehari lebih lambat dari perkiraan semula. Awalnya wahana yang gagal menuju Phobos, bulan Mars, itu akan jatuh antara 14-15 Januari 2012. "Prediksi terbaru menyatakan Phobos-Grunt bakal jatuh pada Senin, 16 Januari 2012, pukul 14:00 WIB +/- 31,2 jam," kata astronom Ma'rufin Sudibyo lewat akun Facebook-nya, Rabu (11/1/2012). Selama periode itu, Phobos-Grunt akan mengelilingi Bumi sebanyak 42 kali. Lokasi jatuhnya wahana antariksa itu masih sulit ditentukan, tetapi diperkirakan pada rentang kawasan 51 derajat Lintang Utara hingga 51 derajat Lintang Selatan. Saat jatuh, diperkirakan ada 200 kilogram puing Phobos-Grunt akan menghantam Bumi. Massa total Phobos-Grunt sendiri adalah 13,2 ton. Berdasarkan data Senin (9/1/2012), Phobos-Grunt berada pada ketinggian terdekat (perigee) 168 kilometer dan terjauh (apogee) 208 km. Wahana akan mulai jatuh cepat saat masuk ketinggian 120 km di atas permukaan Bumi. Phobos-Grunt akan melewati Indonesia pada rentang waktu 9-20 Januari 2012. Dengan demikian, ada potensi satelit ini jatuh di wilayah Nusantara. "Perhatian terbesar harus difokuskan ke Laut Arafura dan Pulau Irian karena di sinilah kemungkinan terbesar Phobos-Grunt bakal jatuh," kata Ma'rufin. |
| Panas Bikin Kadal Makin Pintar Posted: 11 Jan 2012 11:50 AM PST Panas Bikin Kadal Makin Pintar Yunanto Wiji Utomo | Benny N Joewono | Rabu, 11 Januari 2012 | 19:50 WIB
TERKAIT: SYDNEY, KOMPAS.com - Sementara banyak spesies terancam akibat pemanasan global, tidak demikian halnya dengan kadal. Hewan ini diprediksikan malah jadi lebih pintar jika Bumi lebih panas. Paling tidak, hasil riset itulah yang didapatkan Joshua Amiel dan rekannya dari Universitas Sydney, Australia. Amiel dan rekannya menginkubasi 9 telur kadal scincid (Bassiana duperreyi) di kondisi dingin (suhu 8,5 - 23,5 derajat Celsius dan 12 telur di kondisi hangat (suhu 14,5 - 29,5 derajat Celsius). Selanjutnya, peneliti melakukan observasi perilaku. Kadal pada setiap kelompok diletakkan pada dua kontainer yang berbeda. Tiap kontainer dilengkapi dengan dua jalan keluar yang salah satunya ditutup. Selanjutnya, peneliti menakuti kadal dengan menyentuh ekornya agar kadal keluar dari kontainer. Setelah 16 kali ulangan, didapatkan hasil bahwa 5 dari 9 kadal yang telurnya diinkubasi di tempat dingin banyak melakukan kesalahan dengan ingin keluar lewat jalur yang ditutup. Sementara, hanya 1 dari 12 kadal yang telurnya diinkubasi di tempat hangat yang melakukan hal yang sama. Amiel, seperti dikutip New Scientist, Rabu (11/1/2012) mengatakan, "Perubahan iklim mungkin tak begitu berpengaruh pada kadal ini." |
| Cara Kaki Kecil Badak Menopang Tubuh Besar Posted: 11 Jan 2012 10:21 AM PST Cara Kaki Kecil Badak Menopang Tubuh Besar Yunanto Wiji Utomo | Benny N Joewono | Rabu, 11 Januari 2012 | 18:21 WIB
ESSEX, KOMPAS.com — Badak adalah salah satu dari hewan darat paling berat di Bumi, namun memiliki ukuran kaki yang relatif kecil. Ilmuwan tertarik untuk mengetahui bagaimana kaki badak yang kecil bisa menopang kaki badak yang besar. Profesor John Huctinson dari Royal Veterinary College (RVC) melakukan penelitian. Ia melatih badak di kebun binatang Colchester dan meminta badak itu untuk berjalan di lintasan teknologi tinggi yang dilengkapi sensor pengukur tekanan. "Tekanan tiap telapak kaki menunjukkan gaya per satuan luas, di mana tubuh badak ditopang oleh setiap area kaki pada resolusi tinggi," kata Hutchinson seperti dikutip BBC, Selasa (10/1/2012). Dr Olga Panagiotopulou yang juga terlibat pada studi membandingkan cara gajah dan badak mendistribusikan berat badannya pada kaki. Hasilnya, memang terdapat perbedaan antara cara gajah dan badak mendistribusikan berat badannya. "Gajah memiliki lebih banyak tekanan pada bagian luar kakinya, sementara badak memiliki tekanan paling besar di bagian dalam kakinya," papar Panagiotopoulou. Apa gunanya penelitian ini? Hutchinson mengungkapkan bahwa di lokasi penangkaran, badak sering mengalami masalah akibat kakinya. Penanganan menghadapi kesulitan karena tidak mengetahui bagian kaki yang paling banyak menanggung beban. "Lebih banyak kita tahu tentang bagaimana kaki badak bekerja, lebih banyak pula kita bisa membantu," ucap Hutchington. Lebih lanjut, Hutchinson juga menuturkan bahwa penelitian ini punya aplikasi lebih luas. Misalnya, manusia nantinya bisa mengembangkan perangkat yang bisa menopang dan memindahkan beban berat. |
| Posted: 11 Jan 2012 07:49 AM PST Tanaman Ini Pemakan Cacing Yunanto Wiji Utomo | Laksono Hari W | Rabu, 11 Januari 2012 | 15:49 WIB
BRASILIA, KOMPAS.com — Tanaman genus Philcoxia, salah satunya Philcoxia minensis, merupakan salah satu tanaman paling unik. Pakar tumbuhan dari State University of Campinas di Brasilia, Rafael Olivera, menemukan bahwa tanaman ini memiliki daun yang tumbuh di dalam tanah serta memakan cacing. Dalam riset yang dipublikasikannya di Proceeding of the National Academy of Sciences pekan ini, Olivera menemukan bahwa daun Philcoxia berevolusi untuk menjebak cacing golongan nematoda. Cacing ini penting sebagai sumber nitrogen sebab Philcoxia hidup di savana. "Tanaman ini mungkin membosankan karena tak bergerak aktif mencari makan. Namun, tanaman itu berevolusi untuk mengatasi masalah, seperti sedikitnya nutrisi dan air," kata Olivera. Olivera mulai tertarik meneliti tanaman tersebut setelah melihat bahwa Philcoxia tumbuh di habitat berpasir dan sistem perakaran yang tak begitu berkembang. Ini merupakan petunjuk bahwa tanaman tersebut tergolong karnivora. Untuk menguji hipotesisnya, ia mengembangkan cacing di media nitrogen. Peneliti menemukan bahwa nitrogen dari cacing juga diserap oleh tanaman, bukti bahwa Philcoxia memakan cacing. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya tanaman yang berevolusi secara khusus untuk menjebak dan makan cacing. Tanaman karnivora yang umumnya dikenal memakan serangga, seperti kantung semar. Penemuan tanaman pemakan cacing ini bisa menjadi awal penemuan tanaman karnivora lain. Saat ini, tanaman karnivora hanya 0,2 persen dari total spesies. Jumlah sebenarnya diyakini lebih banyak. "Kalau kita mulai melihat lebih dekat mikroorganisme sebagai jenis mangsa, kita mungkin akan menemukan lebih banyak," ujar Olivera seperti dikutip National Geographic, Selasa (10/1/2012). |
| You are subscribed to email updates from KOMPAS.com - Sains To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |