Ilmuwan temukan objek bercincin mirip Saturnus - Sains Antara |
- Ilmuwan temukan objek bercincin mirip Saturnus
- Bunga Matahari ilhami pembangkit listrik
- Kenalkan nih, kodok terkecil di dunia
| Ilmuwan temukan objek bercincin mirip Saturnus Posted: 13 Jan 2012 07:45 AM PST Jakarta (ANTARA News) - Kabar baru muncul dari Austin Minggu ini di sela pertemuan ke-219 Masyarakat Astronomi Amerika. Ilmuwan di sana mengumumkan penemuan objek bercincin mirip Saturnus pertama di luar sistem tata surya kita, didokumentasikan ketika peneliti mencoba mendiagnosa penyebab efek gerhana yang aneh berasal dari bintang di dekatnya. Kami menggunakan istilah, mirip-Saturnus, kata sebuah laporan di laman teknologi popsci.com baru-baru ini. Para ilmuwan percaya itu merupakan tubuh astonomi bercincin, tetapi, tidak jelas apa itu, sebuah planet, atau sebuah bintang yang mereka lihat di luar sana di Scorpius-Centaurus, daerah terdekat formasi bintang skala-besar terakhir berjarak sekitar 450 tahun cahaya. Tetapi mereka yakin menyaksikan beberapa fenomena gerhana yang aneh saat mereka mempelajari cahaya yang datang dari sebuah bintang di dekatnya. Menggunakan SuperWASP Internasional (Wide Angle Search for Planets) dan instrumen All Sky Automated Survey, para peneliti sedang mencari exoplanet-exoplanet dengan menganalisis fluktuasi cahaya yang datang dari bintang-bintang mirip-matahari. "Ketika exoplanet dan objek lain melewati kita dan bintang jauh, kecerahan cahayanya bervariasi, yang mengindikasikan keberadaan sebuah planet ekstrasurya," tulis popsci. Pengamatan lebih lanjut dipimpin peneliti dari Cerro Tololo Inter-Amerika Observatory di Chili dan University of Rochester, memastikan bahwa itu merupakan beberapa jenis objek dengan sejumlah cincin-cincin orbit puing-puing debu, yang memiliki jarak satu sama lain. Itu, penemuan pertama mirip-Saturnus bercincin debu di luar sistem tata surya kita, dengan cincin terluar membentang sekitar 37 juta mil dari pusat orbitnya. (*) |
| Bunga Matahari ilhami pembangkit listrik Posted: 13 Jan 2012 03:56 AM PST Jakarta (ANTARA News) - Para peneliti dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT) dan Universitas Aachen Jerman, menciptakan desain baru untuk mengurangi jumlah lahan yang dibutuhkan saat membangun pembangkit listrik tenaga matahari terkonsentrasi (CSP). Situs resmi MIT menyebutkan, desain itu menempati satu situs yang menyerupai oasis di gurun Andalucia, Spanyol, di mana ada menara setinggi 100 meter yang dikelilingi lebih dari 600 cermin raksasa. Cermin-cermin seukuran setengah lapangan tenis itu mengikuti sinar Matahari, seperti bunga matahari, lalu memantulkannya ke menara di mana panas Matahari dikonversi menjadi listrik yang cukup memenuhi kebutuhan 6.000 rumah. Desain yang terinspirasi dari bunga matahari itu memungkinkan tata ruang yang lebih padat, dan mengurangi bayangan sinar mentari serta halangan dari cermin di sebelahnya. "Energi panas Matahari yang terkonsentrasi sebenarnya memerlukan wilayah yang luas," kata Asisten Profesor Teknik Mesin Rockwell, Alexander Mitsos, salah seorang peneliti desain itu. Mitsos mengatakan wilayah yang luas dibutuhkan jika ingin mendapatkan energi terbarukan hingga 100 persen. Wilayah yang digunakan harus lebih efisien. Tim peneliti MIT dan Universitas Aachen kemudian mendapat ilham dari alam, terutama bunga matahari. Sebuah bunga matahari kecil tersusun dalam sebuah pola spiral yang dapat ditemui pada sejumlah objek alam dan telah lama mempesona para matematikawan. Para pendukung CSP mengatakan teknologi itu berpotensi menghasilkan energi cukup bersih dan terbarukan untuk seluruh Amerika Serikat. Teknologi itu juga didasarkan dua pasokan tak terbatas, tanah dan sinar Matahari. Frank Burkholder, insinyur Laboratorium Energi Terbarukan AS, mengatakan model yang dikembangkan Mitsos berpeluang menghasilkan energi listrik tahunan yang sama. I026 |
| Kenalkan nih, kodok terkecil di dunia Posted: 13 Jan 2012 12:59 AM PST Jakarta (ANTARA News) - Peneliti dari Louisiana State University (LSU), Chris Austin, telah menemukan dua spesies baru kodok di Papua Nugini. Salah satunya diketahui sebagai hewan bertulang belakang (vertebrata) terkecil di dunia dengan ukuran sekitar 7,7 milimeter. "Sangat sulit mengetahui keberadaan Paedophryne amauensis karena ukurannya yang kecil," kata Austin. Spesies baru itu mengalahkan Paedocypris Progenetica, spesies ikan dari Indonesia yang berukuran lebih dari delapan milimeter. Austin yang memimpin sebuah tim peneliti dari Amerika beserta mahasiswa pascasarjana LSU, Eric Rittmeyer, menemukan spesies itu dalam ekspedisi selama tiga bulan di Papua Nugini. Spesies kedua, Paedophryne swiftorum, berukuran sedikit lebih besar dari Paedophryne amauensis dengan ukuran tubuh rata-rata 8,5 milimeter. "Ekosistem kedua kodok yang sangat kecil ini sangat mirip. Mereka mendiami daun di hutan hujan tropis," kata Austin. Austin mengklaim penemuan timnya ini sebagai temuan besar. Papua Nugini adalah pusat keanekaragaman hayati. "Kami sekarang percaya bahwa mahluk-mahluk ini bukanlah keanehan biologis, tapi menggambarkan penemuan ekologi yang tak terdokumentasikan sebelumnya," sambung dia. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam Jurnal Public Library of Science One pada 11 Januari. I026 Sumber: lsu.edu |
| You are subscribed to email updates from ANTARA News - Teknologi - Sains To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |