Rupanya Gajah Punya Enam Jari - Sains KOMPAS |
- Rupanya Gajah Punya Enam Jari
- Mawar Angkasa Hasil Tumbukan Dua Galaksi
- Merpati Juga Pintar Matematika
- Gelang Purba 9.500 Tahun Sehalus Lensa Teleskop
| Posted: 23 Dec 2011 05:12 PM PST Rupanya Gajah Punya Enam Jari Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Sabtu, 24 Desember 2011 | 01:12 WIB
LONDON, KOMPAS.com — Selama ini manusia menyangka bahwa gajah hanya memiliki lima jari. Namun, studi yang dilakukan ilmuwan Royal Veterinary College baru-baru ini mengungkap bahwa gajah memiliki enam jari, meski jari keenam tak bisa dikatakan betul-betul jari. Menurut ilmuwan, jari keenam gajah sebenarnya adalah pemanjangan tulang. Pada gajah, pre-digit atau bisa dikatakan bakal tulang tulang jari telah berkembang menjadi struktur berukuran besar, menyaingi jari yang sebenarnya. Uniknya, kata John R Hutchinson, sang peneliti, jari keenam pada gajah ini berkembang dengan cara yang unik. Pertama, pre-digit berkembang menjadi batang tulang kartilago (lunak). Baru di tahap selanjutnyalah tulang itu tumbuh menjadi tulang sejati. Peneliti penasaran dengan fungsi jari keenam itu. Setelah diteliti, ternyata jari keenam itu berfungsi menyeimbangkan berat badan gajah yang super. Jari keenam ini mentransfer beban ke tulang kaki dan engsel. Menurut peneliti, jari keenam tumbuh seiring dengan proses evolusi gajah. Hutchinson mengungkapkan, mammoth atau gajah purba dan gajah modern pasti memiliki cara berjalan yang berbeda, mulai berevolusi sejak 40 juta tahun lalu. "Sejauh yang kita tahu, hanya gajah yang masih memakai tulang sesamoid untuk mendukung fungsi ini. Mamalia darat lain telah kehilangannya dan tak mengembangkan kaki besar berlemak atau fitur lainnya yang unik pada gajah," jelas Hutchinson seperti dilansir Daily Mail, Jumat (23/12/2011). |
| Mawar Angkasa Hasil Tumbukan Dua Galaksi Posted: 23 Dec 2011 03:27 PM PST Mawar Angkasa Hasil Tumbukan Dua Galaksi Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Jumat, 23 Desember 2011 | 23:27 WIB
SAN FRANCISCO, KOMPAS.com - Teleskop antariksa Hubble menangkap citra sepasang galaksi yang saling bertumbukan, dihiasi dengan bintang biru muda nan panas. Sekilas, dua galaksi tersebut tampak bagai bunga mawar yang merekah di angkasa. Pasangan galaksi yang saling berinteraksi itu bernama Arp 273, berada di konstelasi Andromeda, sekitar 300 juta tahun cahaya dari Bumi. Dua galaksi yang bertumbukan adalah UGC 1810 yang berukuran lebih besar serta UGC 1813. Galaksi yang lebih kecil dikatakan "menyelam" ke bagian galaksi yang lebih besar. UGC 1810 yang lebih besar pun terdistorsi bentuknya menjadi serupa mawar. Bagian spiral pada galaksi yang lebih besar merupakan tanda interaksi UGC 1810 dan 1813. Di bagian luar, terdapat struktur serupa cincin yang dipercaya merupakan tempat dimana dua galaksi saling bersinggungan. Bagaimana dua galaksi bertumbukan belum diketahui. Di bagian tepi galaksi yang lebih besar, tanpak banyak spot berwarna biru, menunjukkan tempat dimana bintang muda dan panas banyak didapati. Mawar hasil tumbukan dua galaksi ini tentu tak sama dengan bunga mawar yang dikenal manusia. "Mahkota" mawar angkasa ini agak miring dan asimetris. Mawar angkasa itu ditangkap dengan kamera WCF3, instrumen di teleskop Hubble. |
| Merpati Juga Pintar Matematika Posted: 23 Dec 2011 09:28 AM PST
DUNEDIN, KOMPAS.com - Kecerdasan bangsa burung semakin terkuak lewat penelitian. Burung Beo Abu-abu Afrika memiliki kemampuan verbal yang hebat, burung Scrub Jay memiliki memori yang luar biasa, sementara Gagak Kaledonia Baru punya kemampuan menggunakan peralatan. Kini, ilmuwan berhasil membuktikan bahwa merpati juga pintar matematika. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Dr Damian Scarf dan timnya dari Universitas Otago menunjukkan, burung punya kemampuan berhitung, mengurutkan angka abstrak dari yang terkecil ke yang paling besar, dari 1 sampai 9. Hasil ini mencengangkan, sebab kemampuan serupa semula diperkirakan hanya ada pada bangsa primata. Hasil penelitian menunjukkan, merpati bisa memahami bahwa dua lebih besar dari satu, dan tiga lebih besar dari dua. Untuk mendapatkan hasil tersebut, awalnya ilmuwan melatih merpati dengan 35 set gambar himpunan. Masing-masing dengan satu, dua, dan tiga objek yang warna dan bentuknya berbeda. Selanjutnya, merpati dihadapkan dengan himpunan objek yang lebih besar tanpa dilatih untuk meneliti apakah mereka masih tetap mampu mengurutkannya. Hasil penelitian menunjukkan, merpati bisa memahami bahwa dua lebih besar dari satu, dan tiga lebih besar dari dua. Meski tanpa latihan, merpati juga terbukti memahami bahwa enam lebih besar dari lima dan seterusnya. Kemampuan merpati ini menyamai kemampuan monyet rhesus yang pernah diteliti dengan metode yang sama pada tahun 1990an. "Penemuan kami mennambah bukti bahwa merpati merupakan salah satu spesies burung yang memiliki kemampuan mental hebat," kata Scarf seperti dikutip Physorg, Kamis (22/12/2011). Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science, Kamis (22/12/2011) kemarin, juga memberi bukti bahwa bangsa burung tak kalah cerdas dengan primata. Scarf, seperti diuraikan New York Times, mengatakan, kemampuan burung dan primata dalam menghitung didapatkan melakui evolusi. Nenek moyang burung dan primata yang hidup 300 juta tahun lalu memang memiliki kemampuan berhitung yang kemudian diturunkan. Scarf bertaruh, kemampuan ini pasti menguntungkan bagi dua bangsa hewan itu. Penelitian Scarf dipublikasikan di jurnal Science yang terbit Jumat (23/11/2011). Hingga saat ini, belum diketahui apakah merpati mampu menyusun himpunan objek yang jumlahnya lebih besar, lebih dari 9. Namun, penelitian masih akan terus dilanjutkan, termasuk mengamati aktifitas otak merpati ketika sedang berhitung. |
| Gelang Purba 9.500 Tahun Sehalus Lensa Teleskop Posted: 23 Dec 2011 07:49 AM PST Gelang Purba 9.500 Tahun Sehalus Lensa Teleskop Yunanto Wiji Utomo | Inggried Dwi Wedhaswary | Jumat, 23 Desember 2011 | 15:49 WIB
ISTANBUL, KOMPAS.com — Sebuah gelang purba berusia 9.500 tahun pernah ditemukan di Asikli Höyük, Turki, pada tahun 1995. Gelang tersebut dibuat dalam masa kebudayaan neolitik dari bahan kaca vulkanik atau biasa disebut obsidian. Peneliti dari Institut Français d'Etudes Anatoliennes di Istanbul dan Laboratoire de Tribologie et de Dynamiques des Systèmes mempelajari gelang tersebut serta melihat permukaan dan struktur topografi mikronya. Hasil penelitian menunjukkan, gelang yang berukuran 10 sentimeter itu dibuat dan diasah dengan teknik yang sangat maju. Menurut para ilmuwan, teknik asahan gelang tersebut menyamai teknik asahan lensa teleskop saat ini. Gelang purba dari zaman 7500 SM itu merupakan salah satu contoh tertua benda yang terbuat dari kaca vulkanik. Kerajinan kaca vulkanik memuncak pada milenium ke-6 SM atau ke-7 SM. Selain berupa gelang, kerajinan juga berupa cermin dan vas. Studi ini dipublikasikan di Journal of Arachaelogical Science yang terbit pada Desember 2011. Masyarakat neolitik, kadang juga disebut masyarakat Zaman Batu Baru, memang dikenal sebagai petani yang juga berkemampuan membuat kerajinan. |
| You are subscribed to email updates from KOMPAS.com - Sains To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |